Kiat Khusyu’ Dalam Shalat

Ada beberapa kiat khusyu’ dalam shalat yang kerap kali disinggung oleh para
ulama dalam buku-buku mereka khususnya yang berkenaan dengan hukum dan
tata cara shalat. Berikut kami sampaikan tulisan yang dikutip dan diramu dari
buku “Kaifa Naksya’u  Ash-Shalah”- oleh Fauzan Ahmad az-Zumari – cetakan
Darul Basyair al-Islamiyah – Beirut – Libanon.

Vitalitas shalat di antara sekian banyak ragam ibadah adalah aksioma yang
sudah mengakar dalam aqidah dan keyakinan seorang mukmin. Betapa tidak?
Allah berrman tentang shalat dua kali, dalam deretan syarat keberuntungan
mukmin di hadapan Allah yaitu pada awalnya:
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman; Yaitu orang-orang
yang khusu’ dalam shalatnya…” sampai akhir ayat: ” …Yaitu
orangorang yang selalu melihara shalat-shalat mereka…’ (al-
Mukminun: 1-9)
Firman Allah yang artinya:
“Kemudian, Allah menganugerahkan bagi mereka Jannah Firdaus nan
abadi.” (al-Mukminun: 10)

Dengan shalat, pribadi mukmin dapat menggapai puncak kebahagian tertinggi,                                                                  sebagaimana tersebut di atas; dan jika serampangan menunaikannya, seorangmukmin                                                                juga bisa terperosok ke jurang Wail di Narr Jahannam. Allah berrman:”Maka Narr Wail                                                                bagi mereka yang shalat; yaitu orang-orang yang
melalaikan shalatnya itu..” (al-Ma’un: 3-4)

Melalui shalat, seorang mukmin dapat mengentaskan tabi’at buruk manusia yang
tak mau susah, tapi juga tak tahu di untung. Allah berrman:
“Sesunguhnya manusia diciptakan dalam keadaan keluh kesah lagi
kikir; apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah; dan pabila
ia mendapat kebaikan ia amat kikir; melainkan orang-orang yang
shalat.’ (al-Ma’arij: 19-21)
Shalat adalah media efektif untuk mengerem manusia dari berbagai perbuatan
maksiat dan kemungkaran:
Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu (dapat) mencegah
perbuatan keji dan mungkar. (al-Ankabut: 45)

Sebagai makhluk sosial, manusia juga pasti dilingkungi oleh komunitas hidup
yang akrab dengan beragam problematika. Ketabahan jiwa menghadapi berbagai
persoalan menjadi senjata ampuh menuju kebahagiaan hidup; pamungkas nya?
Bagi seorang mukmin, tentu saja hubungan yang menyeluruh dan berkwalitas
dengan Sang Maha pencipta, yang tak lain adalah shalat:
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
(al-Baqarah: 153)

Gelombang kehidupan yang terkadang bergolak amat keras juga seringkali
mengombangambingkan seorani mukmin antara ketaatan dan kemaksiatan.
Kitabullah sebagai pegangan, haruslah kita pelihara dengan sekuat tenaga.
Salah satu di antara kiat jitu melanggengkan sikap konsistensi kita berpegang
kapada hukum ilahi adalah dengan memperbaiki kualitas shalat:
“Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Kitab (Taurat)
serta mendirikan shalat, (akan Kami beri pahala) karena
sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yanl*
mengadakan perbaikan.” (al-A’raf: 170)

Oleh sebab itu, di antara hal paling penting dari perintah Allah yang harus
disosialisakan dalam keluarga adalah juga, shalat. Melalaikan shalat adalah
malapetaka. Sebaliknya, menyibukkan diri dengan ibadah tak akan membikin
manusia celaka, sengsara atapun merana.
“Dan perintahkanlah kepada keluarga kamu untuk mendirikan shalat
dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak
meminta dari kamu rezki. Kamilah yang akan memberimu
rezki. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang
bertakwa.” (ath-Thaha: 132)

Hanya saja, tak sembarang orang mukmin mampu dengan mudah mengabadikan
amalan shalat, apalagi dalam ujud yang sempurna rukun dan syaratnya,
ditambah sejumlah sunnahsunnah yang juga terdapat dalam shalat. Kemudahan
itu hanya milik mereka yang mampu tampil khusyu’ dalam shalatnya. Dalam
hal itu, Allah sudah menegaskan:
“Dan sesungguhnya yang demikian itu (shalat) amatlah berat, kecuali
bagi orang-orang yang khusyu'” (al-Baqarah: 45)

Celakanya, kebanyakan kaum Muslimin sering menjadi pelanggan shalat yang
kerap alpa, dan lalai melakukannya. Itu sudah menjadi ketentuan ilahi yang
akan berlaku, dan akan diperbuat oleh satu generasi di akhir jaman.
“Maka datanglah sesudah mereka generasi yang jelek yang menyia-
nyiakan shalat dan memper turutkan hawa nafsunya; maka mereka
kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)

Padahal, shalat adalah amalan yang paling utama, yang pertama kali
akan dihisab dari seorang hamba di hari akhir nanti. Bahkan Rasulullah
menjadikannya sebagai wasiat akhir sebelum kematian beliau. Beliau bersabda:
“Allah, Allah, (Wahai kaum Muslimin) pelihara lah shalat,
peliharalah shalat dan bertakwalah kepada Allah, serta peliharalah
para hamba sahaya yang menjadi milikmu.”

Demikianlah keagungan nilai shalat, dan demikian sebagian di antara ratusan
dalil yang berbicara tentang keutamaan shalat. Dengan itu, kita dapat menilai
realita yang ada di kalangan kita kaum Muslimin: Yaitu realita menganggap
shalat hanya sebagai rutinitas hidup, instrumen pelehgkap dalam putaran roda
kehidupan, yang tak lagi memiliki ruh, kualitas dan kemuliaan yang seharusnya
melekat pada ibadah shalat tersebut.

Shalat sudah dianggap melelahkan, terlalu menguras waktu (entah waktu yang
bagaimana), dan terkesan membosankan. Dan satu hal yang lumrah jika persepsi
itu memasyarakat, karena kaum Muslimin -kecuali yang mendapat rahmat Allah-
sudah kehilangan miliknya yang paling berharga dalam menjalankan shalat,
yaitu: kekhusyu’an. Nabi bersabda:
“Sesungguhnya karunia pertama yang dicabut Allah dari pars hamba-
Nya adalah kekhusyu’an dalam shalat.” 2
Oleh sebab itu, sedapat mungkin kita berupaya memperoleh kembali (kalau
sungguh telah hilang dari kita) kekhusyu’-an dalam shalat yang menjadi ciri
mereka yang meyakini hari kebangkitan; berusaha membiasakannya dalam diri
kita, bahkan mencari cara dalam ajaran As-Sunnah yang dapat menguak jalan
ke arah itu.

1 Denisi Dan Pengertian Khusyu’
1.1 Secara Bahasa
Secara bahasa, kata khusyu’ memiliki beberapa arti yang sama:

1. Tunduk, pasrah. merendah atau diam.
Artinya mirip dengan kata khudhu’. Hanya saja kata khudhu’ lebih sering
digunakan untuk anggota badan, sedangkan khusyu’ untuk kondisi dan
gerak-gerik hati.

2. Bisa juga berarti rendah perlahan, biasanya digunakan untuk suara.
Allah berrman:
“Dan (khusyu’) merendahlah semua suara kepada Rabb Yang
Mdha Pemurah, maka kamu tidak mendengar melainkan
bisikan saja.” (Ath-Thaha: 108)

3. Arti khusyu’ juga bisa diam, tak bergerak.
Allah berrman yang artinya:
“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, kamu lihat bumi itu
diam tak bergerak (ada juga yang mengatakan: tandus-Pent),
dan apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak
dan subur.” (Al-Fusshilat: 39)

1.2 Menurut Istilah
Khusyu’ artinya: kelembutan hati, ketenangan sanubari yang berfungsi
menghindari keinginan keji yang berpangkal dari memperturutkan hawa
nafsu hewani, serta kepasrahan di hadapan ilahi yang dapat melenyapkan
keangkuhan, kesombongan dan sikap tinggi hati.
Dengan itu, seorang hamba akan menghadap Allah dengan sepenuh hati.
Ia hanya bergerak sesuai petunjuk-Nya, dan hanya diam juga sesuai dengan
kehendak-Nya.

Adapun pengertian khusyu’ di dalam shalat:
kondisi hati yang penuh dengan ketakutan, mawas diri dan tunduk
pasrah di hadapan keagungan Allah. Kemudian semua itu membekas
dalam gerak-gerik anggota badan yang penuh hikmat dan konsentrasi
dalam shalat, bila perlu menangis dan memelas kepada Allah;
sehingga tak memperdulikan hal lain.

Pengertian kusyu’ tersebut diambil dari rman Allah sebagaimana tersebut                                                           sebelumnya:”..yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya..” (Al-
Mukminun: 1-2)

Mengenai makna kekhusyu’an itu, Ibnu Abba’s menandaskan: “Artinya penuh
takut dan khidmad.” Al-Mujahid menyatakan: “Tenang dan tunduk.” Sementara
Ali bin Abi Thalib pernah menyatakan:
“Yang dimaksud dengan kekhusyu’an di situ adalah kekhusu’an hati.”
Lain lagi dengan Hasan al-Bashri, beliau berkata:
“Kekhusyu’an mereka itu berawal dari dalam sanubari, lalu terkilas
balik ke pandangan mata mereka sehingga mereka menundukkan
pandangan mereka dalam shalat.”
Imam Atha’ pernah berkata:
“Khusyu’ artinya, tak sedikitpun kita mempermainkan salah satu
anggota tubuh kita.”
Jadi artinya, kekhusyu’an dalam shalat bukanlah sekedar kemampuan
memaksimalkan konsentrasi sehingga kiran hanya terfokus dalam shalat.
Namun kekusyu’an lebih merupakan kondisi hati yang penuh rasa takut, pasrah,
tunduk dan sejenisnya; yang membias dalam setiap gerakan shalat menjadi
nampak anggun, khidmat dan tidak serampangan.

2 Kiat Khusyu’ Dalam Shalat
Ada beberapa kiat khusyu’ dalam shalat yang kerap kali disinggung oleh para
ulama dalam buku-buku mereka khususnya yang berkenaan dengan hukum dan
tata cara shalat. Di antaranya:

2.1 Mengenal Allah, Menghadirkan, Mengagungkan dan
Takut Kepada-Nya.

Orang yang paling khusyu’ dalam shalat adalah orang yang paling bertakwa.                                                                          Karena Allah berrman:”(orang-orang yang khusyu’ yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa
mereka akan menemui Rabb mereka, dan bahwa mereka akan
kembali kepada-Nya.” (Al-Baqarah: 46)
Dalam hal itu Allah juga berrman:
“Sesungguhnya yang takut (bertakwa) kepada Allah hanyalah para
ulama.” (Al-Fathir: 28)

Maksudnya, hanya orang-orang yang berilmu yang tergolong bertakwa kepada
Allah. Dan tentunya, hanya merekalah yang digolongkan orang-orang yang
khusyu’ dalam shalatnya. Yang dimaksud dengan ilmu di sini tentunya ilmu
yang shahih yang membuahkan amalan shalih. Karena itu Al-Hasan al-Bashri
pernah menyatakan:
“Ilmu itu ada dua macam: ilmu ungkapan lidah, dan ilmu di sanubari.
Adapun ilmu sanubari, itulah ilmu yang bermanfaat. Sedangkan ilmu
ungkapan lidah, adalah hujah Allah atas manusia.”
Allah berrman:
“Apakah kamu yang lebih beruntung wahai orang-orang musyrik
ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam, dengan
sujud dan berdiri, sedangkan ia takut akan (adzab) akhirat dan
mengharapkan rahmat Rabb-nya…” (Az-Zumar: 9)

2.2 Hendaknya Orang Yang Shalat Menyadari Bahwa
Shalat Adalah Perjumpaan, Sekaligus Komunikasi
Dirinya Dengan Allah
Hal itu telah diisyaratkan dalam hadits Nabi :
“Apabila seorang di antaramu sedang shalat, sesungguhnya dirinya
sedang berkomunikasi kepada Allah. Maka janganlah ia membuang
ludah ke hadapan muka, atau ke arah kanan; tapi hendaknya ia
membuangnya ke-sebelah kiri, atau di bawah telapak kakinya.”

Imam Nawawi berkata:
“Sabda beliau: “..sesungguhnya ia sedang berkomunikasi kepada
Rabb-nya…”, merupakan isyarat akan pentingnya keiklasan hati,
kehadirannya (dalam shalat) dan pengosongannya dari selain
berdzikir kepada Allah… ”
Jika shalat adalah komunikasi seorang hamba kepada Allah, dan itu sudah
disadari oleh orang yang shalat; maka sudah selayaknya hal itu memacu dirinya
untuk bersikap khusyu’. Karena diapun sadar, bahwa segala gerak hatinya,
apalagi gerak tubuh kasarnya, pasti selalu diperhatikan oleh Allah.

2.3 Ikhlash Dalam Melaksanakannya
Keikhlasan adalah ruh aural. Allah berrman:
“Yang menjadikan hidup dan mati, agar Dia menguji kamu; eiapakah
di antara kamu sekalian yang terbaik amalannya.” (al-Mulk: 2)
Berkenaan dengan ayat ini; Fudhail bin Iyyadh pernah menyatakan:
“Yang dimaksudkan dengan yang terbaik amalannya, adalah yang
paling ikhlas dan paling benar.”
Satu amalan yang dianggap pelakunya sudah ikhlas, bila tak mencocoki ajaran
syari’at (benar-pent), tak akan diterima. Demikian juga amalan yang benar
sesuai ketentuan, namun tidak ikhlas karena Allah, juga tak ada gunanya. Ikhlas,
artinya hanya untuk Allah. Benar, artinya menuruti, Sunnah Rasul .
Satu amalan yang dilakukan dengan ikhlas, dengan sendirinya akan mudah
meleburkan diri si hamba secara menyeluruh ke dalam ibadah itu sendiri. Karena
tak satupun -menurut keyakinannya- yang pantas menguras perhatian dirinya
selain Allah.

2.4 Mengkonsentrasikan Diri Hanya Untuk Allah
Dalam shahih Muslim diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
“Seandainya seorang hamba (sesudah berwudhu dengan baik) tegak
malakukan shalat, memuji Allah, menyanjung-Nya, mensucikan diri-
Nya yang mana itu memang merupakan hak-Nya, mengkonsen-
trasikan diri hanya rnengingat Allah; maka ia akan keluar dari
shalatnya laksqna bayi yang baru dilahirkan.”

Al-Imam Ibnu Katsir menyatakan:
“Sesungguhnya kekhusyu’an dalam shalat itu hanya dapat dicapai
oleh orang yang mengkonsentrasikan hatinya untuk shalat itu,
disibukkan oleh shalat hingga tak mengurus yang lainnya; sehingga
ia lebih mengutamakan shalat dari amalan yang lain.”

2.5 Menghindari Berpalingnya Hati Dan Anggota Tubuh
Dari Shalat
Aisyah pernah bertutur:
“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah tentang berpalingnya wajah
di kala shalat, ke arah lain. Beliau menjawab:
“Itu adalah hasil curian setan dari shalat seorang hamba.”

Ath-Tayyibi menyatakan:
“Dinamakan dengan “hasil curian”, menunjukkan betapa buruknya
perbuatan itu. karena orang yang shalat itu tengah menghadap Allah,
namun setan mengintai dan mencuri kesempatan. Apabila ia lengah,
setan langsung beraksi!

Imam Ash-Shan’ani menyatakan:
“Sebab dimakruhkannya berpaling tanpa hajat di kala shalat, karena
itu dapat mengurangi kekhusu’an, dan dapat juga menyebabkan
sebagian anggota badan berpaling dari kiblat. Juga karena shalat
itu adalah menghadap Allah.

2.6 Merenungi Setiap Gerakan Dan Dzikir-Dzikir Dalam
Shalat
Imam Ibnul Qayyim pernah menyatakan:
“Ada satu hal yang ajaib, yang dapat diperoleh oleh orang yang
merenungi makna-makna Al-Qur’an. Yaitu keajaiban-keajaiban
Asma dan Sifat Allah. Itu terjadi, tatkala orang tadi menuangkan
segala curahan iman dalam hatinya, sehingga ia dapat memahami
bahwa setiap Asma dan Sifat Allah itu memiliki tempat (bukan
dibaca) di setiap gerakan shalat.
Artinya bersesuaian. Tatkala ia tegak berdiri, ia dapat menyadari
ke-Maha Terjagaan Allah, dan apabila ia bertakbir, ia ingat akan
ke-Maha Agung-an Allah.”

2.7 Memelihara Tuma’ninah (Ketenangan), Dan Tidak
Terburu-buru Dalam Shalat
Allah berrman:
“Dan apabila kamu sudah tenang, maka dirikanlah shalat…” (An-
Nisa’: 103)
Ayat di atas jelas mengisyaratkan bahwa ketenangan, adalah faktor vital dalam
shalat yang harus diperhatikan. Sehingga “keharusan” shalat bagi seorang
mukmin di saat-saat berperang dengan orang-orang kar, dilakukan kala ia sudah
kembali tenang.

Hal ini juga terpahami jelas dari hadits tentang “Shalat orang yang asal-
asalan”, yang lalu dikoreksi oleh Nabi. Bahkan orang itu disuruh mengurangi
shalatnya dengan sabda beliau, yang artinya:
“…dan ruku’lah sehingga kamu tuma’ninah dalam ruku’ itu. lalu
tegaklah berdiri sampai kamu tuma’ninah dalam berdiri…dst”

2.8 Semangat Dalam Melakukannya
Ini satu hal yang lumrah. Karena tatkala seseorang shalat dengan seenaknya,
malas dan tidak bersemangat; jelas tak akan dapat diharapkan kehusyu’annya.
Oleh sebab itu, dalam hadits yang diceritakan Anas bin Malik disebutkan bahwa
Rasulullah pernah memasuki masjid. Tiba-tiba beliau melihat ada tali yang
direntangkan antara dua tiang masjid tersebut.
Beliau lantas bertanya: “Untuk apa tali ini?” Para shahabat
menjawab: “Itu punyanya Zainab. Kalau dia lagi lemas waktu
shalat, itu dijadikan tempat berpegangan.” maka beliau bersabda,
yang artinya:
“Lepaskan tali itu. setiap kamu itu hendaknya shalat
dengan bersemangat. Kalau dia memang merasa capek,
ya istirahat dulu.”

Rasulullah juga pernah bersabda,
“Apabila salah seorang di antara kamu mengantuk, sedangkan ia
tengah melalukan shalat; hendaknya ia tidur terlebih dahulu sehinga
hilang rasa mengantuknya. Karena kalau ia shalat terus, jangan
jangan, ia ingin beristighfar malah mencaci dirinya sendiri”
Berkenaan dengan hal itu, Imam An-Nawawi pernah menyatakan: “Hadits tersebut mengandung anjuran agar seorang hamba itu shalat
dengan konsentrasi penuh, khusyu’, terfokus kirannya kepada Allah
dan dengan semangat. Hadits tersebut juga menyuruh orang yang
mengantuk selagi shalat itu untuk tidur dulu, atau melakukan hal
lain yang dapat menghilangkan rasa kantuknya.”

Dalam hal ini, nampak sekali kesalahan sebagian kaum Muslimin yang
menganggap shalat yang khusyu’ itu cenderung harus dilakukan dengan lemah
gemulai dan tak bertenaga. Kalau kita tilik kembali tata cara shalat yang
diajarkan Nabi akan kita dapati bahwa seluruh gerakan shalat secara kolektif
ternyata harus dilakukan dengan bersemangat, bukan dengan melemas-lemaskan
tubuh.

Ambil contoh misalnya: ruku’. Di saat melakukan ruku’, orang yang shalat
diperintahkan untuk meluruskan punggung. Namun disamping itu ia juga
diperintahkan untuk membengkokkan sedikit kedua tangannya. Konsekuensinya,
ia harus melakukan gerakan itu dengan perhatian penuh.

Contoh lain, kala bersujud. Di saat bersujud, seorang mukmin harus
meluruskan punggungnya, meluruskan pahanya, meletakkan dengan tepat tujuh
anggota sujud, menekankan kening ke bumi, bertumpu pada kedua belah telapak
tangan, merapatkan kedua telapak kaki, mengarahkan dengan penuh jari-jari kaki
kearah kiblat, merenggangkan kedua lengan, menjauhkan perut dengan bumi; di
samping juga berdzikir, memanjangkan sujud dan lain-lain. Semuanya itu, tak
syak lagi, hanya bisa dilakukan dengan penuh perhatian dan semangat yang
tinggi.

2.9 Memilih Tempat Shalat Yang Sesuai
Artinya yang memenuhi syarat agar bisa membuat shalat kita menjadi khusyu’.
Tempat tadi paling tidak harus memenuhi beberapa kriteria berikut:

1. Tenang, dan jauh dari keributan yang ditimbulkan -mungkin- oleh
penuh sesaknya orang-orang yang shalat, sehingga membikin suara yang
mangganggu. Sesungguhnya Nabi pernah marah ketika dalam shalat beliau
mendengar suara ribut di belakangnnya.

2. Hadirnya para malaikat. Artinya, kita menghindari hal-hal/sesuatu yang
meng halangi malaikat (rahmat) untuk memasuki tempat kita menunaikan
shalat. misalnya, lukisan benda bernyawa, atau anjing. Karena Nabi
bersabda:
“Para malaikat tidak akan memasuki satu rumah yang
didalamnya ada lukisan benda bernyawa, atau anjing.”
Imam al-Khitabi menjelaskan:
“Yang dimaksud di situ adalah para malaikat yang datang membawa
rahmat dan berkah, bukan para malaikat yang mencatat amalan
seorang hamba. Karena mereka (yang kedua) itu tak pernah berpisah
dengan manusia.”
Di antaranya lagi, suara- suara musik. Juga termasuk di antaranya suara bell
lonceng. Karena Nabi pernah bersabda:
“Sesungguhnya lonceng itu adalah seruling-seruling setan.”

2.10 Menghindari Segala Yang Menyibukkan Dan
Mengganggu Sahalat

Termasuk dalam lingkaran larangan itu, shalat di kala makanan sudah
dihidangkan; atau shalat di kala sedang menahan buang air kecil atau besar.
Nabi bersabda yang artinya:
Janganlah salah seorang di antara kamu shalat, kala makanan
dihidangkan, atau kala menahan buang air.”

Diriwayatkan dalam hadits al-Bukhari dan Muslim: 558, bahwasanya Ibnu
Umar pernah dihidangi makanan; saat itu adzan berkumandang, namun beliau
terus saja makan sampai selesai. Padahal beliau sudah mendengar suara bacaan
imam. Di antaranya yang lain: shalat di bawah terik matahari. ‘Dalam hal ini
Rasulullah pernah bersabda, yang artinya:
“Apabila matahari bersinar terik / panas sekali, tundalah waktu
shalat hingga cuaca dingin. Karena sesungguhnya panas yang terik
itu berasal dari uap Narr Jahannam.”

Yang lainnya lagi: memandang (ketika shalat) sesuatu yang merusak konsentrasi.
Dari Anas diceritakan, bahwa Aisyah memiliki kain korden berhias yang menutupi
sebagian tembok rumahnya. Maka Rasulullah bersabda:
“Singkirkan korden itu, Sesungguhnya gambar-gambarnya itu terus
terbayang dalam diriku di waktu shalat.”

Imam Ash-Shan’ani berkomentar:
“Sesungguhnya hadits itu mengandung larangan terhadap segala hal
yang dapat mengganggu shalat. Baik itu ukiran-ukiran, hiasan-hiasan
dan lain-lain.

2.11 Memanjangkan Bacaan
Memanjangkan bacaan surat dalam shalat, seringkali membantu proses
kekhusyu’an, terutama bagi yang mengerti kandungan makna bacaan itu, atau
bagi orang yang dianugerahi Allah kelembutan jiwa.
Rasulullah pernah ditanya: “Shalat bagaimana yang paling
utama?” Beliau menjawab: “Yang panjang qunut/kekhusu’an nya.”
Imam Ibnul `Arabi menyatakan:
“Aku mencoba menyelidiki sumber-sumber kekhusyu’an; lalu kudapati ada
sepuluh perkara:

Ketaa’atan, ibadah, kesinambungan melakukan amal shalih, shalat,
bangun malam, berdiri panjang (dalam shalat), berdoa, ketundukan,
diam tenang, dan tidak menoleh-noleh. Kesemuanya adalah alternatif

yang saling terkait. Namun yang paling berpengaruh adalah:
ketundukan, berdiam diri dan bangun malam.” 23

2.12 Hendaknya kita shalat, seperti shalatnya orang yang
akan bepergian jauh (meninggalkan alam fana)
Rasulullah pernah menegaskan:
“Apabila engkau melakukan shalat, maka shalatlah kamu, dengan
shalatnya orang yang akan meninggalkan alam fana…” 24
Yang dimaksud, agar kita shalat dengan shalatnya orang yang rindu untuk
berjumpa Allah. Bukan shalatnya orang yang gila dunia, yang menjadikan dunia
dan segala kesibukannya sebagai bayangan yang selalu terukir dalam benak.
Masih ada juga beberapa kiat khusyu’lainnya dalam shalat. Cukup dikutip
sebagian di antaranya; sekedar untuk memacu dirt kita agar memperbaiki
kualitas shalat kita.

Menghiasi dan menyempurnakannya dengan kekhusyu’an; sehingga pada
akhirnya, akan menjadikan kita sebagai mukmin yang penuh keberuntungan,
dunia dan akhirat. Lalu, kita berdoa kepada Allah agar kita dijauhkan dari
mereka yang disebutkan dalam rman Allah:

“Maka sungguh satu kecelakan yang besar bagi meraka yang telah
mambatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam
kesesatan yang nyata:” (az-Zumar: 22)

Satu Tanggapan

  1. ok…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: