Kiat Mempererat Cinta Suami Istri

Ada kejadian, seorang laki-laki sebelum menikah menginginkan istri yang cantik
parasnya dan beberapa kriteria lainnya. Tetapi pada saat pernikahan, dia mendapatkan
istrinya sangat jauh dari kriteria yang ia tetapkan. Subhanallah! Inilah jodoh, walaupun
sudah berusaha keras, tetapi jika Allah menghendaki lain, semua akan terjadi. Pada
awalnya ia terkejut karena istrinya ternyata kurang cantik, padahal sebelumnya sudah
nazhar (melihat) calon istrinya tersebut. Sampai ayah dari pihak suami menganjurkan
anaknya untuk menceraikan istrinya tersebut. Tetapi kemudian ia bersabar. Dan
ternyata ia mendapati istrinya tersebut sebagai wanita yang shalihah, rajin shalat, taat
kepada orang tuanya, taat kepada suaminya, selalu menyenangkan suami, juga rajin
shalat malam.

Pada akhirnya, setelah sekian lama bergaul, sang suami ini merasa benar-benar
puas dengan istrinya. Bahkan ia berpikir, lama-kelamaan istrinya bertambah cantik,
dan ia sangat mencintai serta menyayanginya. Karena kesabaranlah Allah
menumbuhkan cinta dan ketentraman. Ternyata faktor fisik tidaklah begitu pokok
dalam menentukan kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga, walaupun bisa juga
ikut berperan menentukan.

Berikut ini kami awaken kiat-kiat praktis sebagai ikhtiar merekatkan cinta kasih
antara suami istri, sehingga keharmonisan bisa tercipta.
Pertama. Saling memberi hadiah
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah bersabda:
“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling cinta mencintai.”
(HR. Bukhari dlm Adabul Mufrad, dihasankan oleh Syaikh al Albani)

Memberi hadiah merupakan salah satu bentuk perhatian seorang suami kepada
istrinya, atau istri kepada suaminya. Terlebih bagi istri, hadiah dari suami mempunyai
nilai yang sangat mengesankan. Hadiah tidak harus mahal, tetapi sebagai simbol
perhatian suami kepada istri.
Seorang suami yang ketika pulang membawa sekedar oleh-oleh kesukaan
istrinya, tentu akan membuat sang istri senang dan merasa mendapat perhatian. Dan
seorang suami, semestinya lebih mengerti apa yang lebih disenangi oleh istrinya. Oleh
karena itu, para suami hendaklah menunjukkan perhatian kepada istri, diungkapkan
dengan memberi hadiah meski sederhana.
Kedua. Mengkhususkan waktu untuk duduk bersama
Jangan sampai antara suami istri sibuk dengan urusan masing-masing, dan tidak
ada waktu untuk duduk bersama. Ada pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh bin
Baaz. Ada seorang pemuda tidak memperlakukan istri dengan baik. Yang menjadi
penyebabnya, karena ia sibuk menghabiskan waktunya untuk berbagai pekerjaan yang
berhubungan dengan studi dan lainnya, sehingga meninggalkan istri dan anak-anaknya
dalam waktu lama. Masalah ini ditanyakan kepada Syaikh, apakah diperbolehkan
sibuk menuntut ilmu dan sibuk beramal dengan resiko mengambil waktu yang
seharusnya dikhususkan untuk isteri?
Syaikh bin Bazz menjawab pertanyaan ini. Beliau menyatakan, tidak ragu lagi,
bahwa wajib atas suami untuk memperlakukan istrinya dengan baik berdasarkan
firman Allah:
“Pergaulilah mereka dengan baik.” (QS. An Nisa’:19)

Juga sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam kepada Abdullah bin ‘Amr
bin Ash, yaitu manakal sahabat ini sibuk dengan shalat malam dan sibuk dengan
puasa, sehingga lupa dan lalai terhadap istrinya, maka Nabi Shalallahu ‘Alaihi
Wassalam berkata:
“Puasalah dan berbukalah. Tidur dan bangunlah. Puasalah sebulan selama tiga
hari, karena sesungguhnya kebaikan itu memiliki sepuluh kali lipat. Sesungguhnya
engkau memiliki kewajiban atas dirimu. Dirimu sendiri memiliki hak dan engkau
juga mempunyai kewajiban terhadap isterimu, juga kepada tamumu. Maka,
berikanlah haknya setiap orang yang memiliki hak.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Banyak hadits yang menunjukkan adanya kewajiabn agar suami memperlakukan
isteri dengan baik. Oleh karena itu, para pemuda dan para suami hendaklah
memperlakukan isteri dengan baik, berlemah lembut sesuai dengan kemampuan.

Apabila memungkinkan untuk belajar dan menyelesaikan tugas-tugasnya di rumah,
maka lakukanlah di rumah, sehingga disamping dia mendapatkan ilmu dan
menyelesaikan tugas, dia juga dapat membuat isteri dan anak-anaknya senang.
Kesimpulannya, adalah disyari’atkan atas suami mengkhususkan waktu-waktu
tertentu, meluangkan waktu untuk isterinya, agar sang isteri merasa tentram,
memperlakukan isterinya dengan baik; terlebih lagi apabila tidak memiliki anak.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluarganya.
Dan saya adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.”
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam juga bersabda:
“Orang yang paling sempurna imannya adalah yang tebaik akhlaknya di antara
mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap isteri-isteri kalian.”
(HR. Tirmidzi)

Sebaliknya, seorang istri juga disyari’atkan untuk membantu suaminya, misalnya
menyelesaikan tugas-tugas studi ataupun tugas kantor. Hendaklah dia bersabar apabila
suaminya memiliki kekurangan karena kesibukannya, sehingga kurang memberikan
waktu yang cukup kepada isterinya. Berdasarkan firman Allah, hendaklah antara suami
dan istri saling bekerjasama :
“Tolong menolonglah kalian di atas kebaikan dan takwa.” (QS. Al Maidah :2)
Juga berdasarkan keumuman sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
“Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong
saudaranya.” (Muttafaqun ‘alaihi, diterjemahkan dari buku Fatawa Islamiyyah)
Nasihat Syaikh bin Baaz tersebut ditujukan kepada kedua belah pihak. Kepada
suami hendaklah benar-benar tidak sampai melalaikan, dan kepada istri pun untuk bisa
bersabar dan memahami apabila suaminya sibuk bukan untuk hal-hal yang tidak
bermanfaat. Untuk para isteri, bisa juga mengoreksi diri mereka. Mungkin diantara
sebab suami tidak kerasan di rumah karena memiliki isteri yang sering marah, selalu
bermuka masam dan ketus apabila berbicara.

Ketiga. Menampakkan wajah yang ceria
Di antara cara untuk mempererat cinta kasih, hendaklah menampakkan wajah
yang ceria. Ungkapan dengan bahasa wajah, mempunyai pengaruh yang besar dalam
kegembiraan dan kesedihan seseorang. Seorang isteri akan senang jika suaminya
berwajah ceria, tidak cemberut. Secara umum Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
bersabda:
“Sedikit pun janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik, meskipun
ketika berjumpa dengan saudaramu engkau menampakkan wajah ceria.” (HR.
Muslim)

Begitu pula sebaliknya, ketika suami datang, seorang isteri jangan sampai
menunjukkan wajah cemberut atau marah. Meskipun demikian, hendaknya seorang
suami juga bisa memahami kondisi isteri secara kejiwaan. Misalnya, isteri yang sedang
haidh atau nifas, terkadang melakukan tindakan yang menjengkelkan. Maka seorang
suami hendaklah bersabar. Ada pertanyaan dari seorangb isteri yang disampaiakan
kepada Syaikh bin Baaz, sebagai berikut:
Suami saya-semoga Allah memaafkan dia-, meskipun dia berpegang teguh
dengan agama dan memiliki akhlak yang tinggi serta takut kepada Allah, tetapi dia
tidak memiliki perhatian kepada saya sedikitpun. Jka di rumah, ia selalu berwajah
cemberut, sempit dadanya dan terkadang dia mengatakan bahwa sayalah penyebab
masalahnya. Tetapi Allah lah yang mengetahui bahwa saya-alhamdulillah-telah
melaksanakan hak-haknya. Yakni menjalankan kewajiban saya sebagai isteri. Saya
berusaha semaksimal mungkin dapat memberikan ketenangan kepada suami dan
menjauhkan segala hal yang membuatnya tidak suka. Saya selalu sabar atas tindakantindakannya
terhadap saya.

Setiap saya bertanya sesuatu kepadanya, dia selalu marah, dan dia mengatakan
bahwa ucapan saya tidak bermanfaat dan kampungan. Padahal perlu diketahui, jika
kepada teman-temannya, suami saya tersebut termasuk murah senyum. Sedangkan
terhadap saya, ia tidak pernah tersenyum; yang ada hanyalah celaan dan perlakuan
buruk. Hal ini menyakitkan dan saya merasa sering tersiksa dengan perbuatannya.
Saya ragu-ragu dan beberapa kali berpikir untuk meninggalkan rumah.
Wahai Syaikh, apabila saya meninggalkan rumah dan mendidik sendiri anakanak
saya dan berusaha mencari pekerjaan untuk membiayai anak-anak saya sendiri,
apakah saya berdosa? Ataukah saya harus tetap tinggal bersama suami dalam keadaan
seperti ini, (yaitu) jarang berbicara dengan suami, (ia) tidak bekerja sama dan tidak
merasakan problem saya ini?

Di jawab oleh Syaikh bin Baaz: “Tidak diragukan lagi, bahwa kewajiban atas
suami isteri ialah bergaul dengan baik dan saling menampakkan wajah penuh dengan
kecintaan. Dan hendaklah berakhlak dengan akhlak yang mulia, (yakni) dengan
menampakkan wajah ceria, berdasarkan firman Allah:
“Pergaulilah mereka dengan baik.” (QS. An Nisa:19)
Juga dalam surat Al Baqarah ayat 228:
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut
cara yang ma’ruf, akan tetapi, para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan
daripada isteri.” (QS. Al Baqarah :228)

Arti kelebihan disini, secara umum laki-laki lebih unggul daripada wanita. Tetapi
nilai-nilai yang ada pada setiap individu di sisi Allah, tidak berarti laki-laki pasti
derajatnya lebih tinggi. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah
adalah yang paling bertakwa. Dan berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi
Wassalam:
“Kebaikan itu adalah akhlak yang baik.” (HR. Muslim)
Dan berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
“Sedikitpun janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik, meskipun ketika
berjumpa dengan saudaramu engkau menampakkan wajah ceria.” (HR. Muslim)
Juga berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
“Orang yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya di antara
mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap isteri-isteri kalian.” (HR. Tirmidzi)
Ini semua menunjukkan, bahwa motivasi berakhlak yang baik dan menampakkan
wajah ceria pada saat bertemu serta bergaul dengan baik kepada kaum Muslimin,
berlaku secara umum; terlebih lagi kepada suami atau isteri dan kerabat. Oleh karena
itu, engkau telah berbuat baik dalam hal kesabaran dan ketabahan atas penderitaanmu,
yaitu menghadapi kekasaran dan keburukan suamimu. Saya berwasiat kepada dirimu
untuk terus meningkatkan kesabaran dan tidak meninggalkan rumah di karenakan hal
itu. Insya Allah akan mendatangkan kebaikan yang banyak. Dan akibat yang baik,
insya Allah diberikan kepada orang-orang yang sabar. Banyak ayat yang
menunjukkan, barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya balasan
yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya Allah akan
memberi ganjaran yang besar tanpa hisab kepada orang-orang yang sabar.
Tidak ada halangan dan rintangan untuk bercanda dan bergurau, serta mengajak
bicara suami dengan ucapan-ucapan yang dapat melunakkan hatinya, dan yang dapat
menyebabkan lapang dadanya dan menumbuhkan kesadaran akan hak-hakmu.
Tinggalkanlah tuntutan-tuntutan kebutuhan dunia (yang tidak pokok) selama sang
suami melaksanakan kewajiban dengan memberikan nafkah dari kebutuhan-kebutuhan
pokok, sehingga ia menjadi lapang dada dan hatinya tenang. Engkau akan merasakan
balasan yang baik, insya Allah. Semoga Allah memberikan taufik kepada dirimu untuk
mendapatkan kebaikan dan memperbaiki keadaan suamimu. Semoga Allah
membimbingnya kepada kebaikan dan memperbaiki akhlaknya. Semoga Allah
membimbingnya untuk dapat bermuka ceria dan melaksanakan kewajibankewajibannya
kepada isterinya dengan baik. Sesungguhnya, Allah adalah sebaik-baik
yang diminta, dan Dia adalah pemberi hidayah kepada jalan yang lurus. (Dinukil dari
buku Fatawa Islamiyyah).

Ini menunjukkan, bahwa seorang wanita diperbolehkan untuk mengeluh dan
menyampaikan problemnya kepada orang yang alim, atau orang yang dianggap bisa
menyelesaikan masalahnya. Hal ini tidak sama dengan sebagian wanita yang sering,
atau suka menceritakan rahasia rumah tangganya, termasuk kelemahan dan keburukan
suaminya kepada orang lain, tanpa bermaksud menyelesaikan masalahnya.

Sehubungan dengan permasalahan ini, Syaikh Utsaimin mengatakan, bahwa apa
yang disampaikan oleh sebagian wanita yang menceritakan keadaan rumah tangganya
kepada kerabatnya, bisa jadi (kepada) orang tua isteri atau kakak perempuannya, atau
kerabat yang lainnya, bahkan kepada teman-temannya, (hukumnya) adalah
diharamkan. Tidak halal bagi seorang wanita membuka rahasia rumah tangganya dan
keadaan suaminya kepada seorangpun. Karena seorang wanita yang shalihah adalah
yang bisa menjaga dan memelihara kedudukanmartabat suaminya. Nabi Shalallahu
‘Alaihi Wassalam telah memberitakan, seburuk-buruk manusia kedudukannya disisi
Allah pada hari Kiamat ialah seorang laki-laki yang suka menceritakan keburukan
isterinya atau seorang wanita yang menceritakan keburukan suaminya.
Meski demikian, jangan dipahami bahwa secara mutlak seorang wanita tidak
boleh menceritakan keburukan seorang suami. Karena, pada masa Nabi Shalallahu
‘Alaihi Wassalam pun ada seorang wanita yang datang kepada Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wassalam dan berkata: “Ya, Rasulullah. Suami saya adalah orang yang kikir,
tidak memberi nafkah yang cukup bagi saya. Bolehkah saya mengambil darinya tanpa
sepengetahuannya untuk sekedar mencukupi kebutuhan saya dan anak saya?”
Mendengar penuturan orang ini, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab:
“Ambillah nominal yang mencukupi kebutuhanmu dan anakmu.” (Muttafaqun
‘alaih)

Keempat. Memberikan penghormatan dengan hangat kepada pasangannya
Memberikan penghormatan dengan hangat kepada pasangannya, baik ketika
hendak pergi keluar rumah ataupun ketika pulang. Penghormatan itu hendaklah
dilakukan dengan mesra. Dalam beberapa hadits diriwayatkan, ketika hendak pergi
shalat, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mencium isterinya tanpa berwudhu
lagi dan langsung shalat. Ini menunjukkan, bahwa mencium isteri dapat mempererat
hubungan antara suami isteri, meluluhkan kebekuan ataupun kekakuan antara suami
isteri. Tentunya dengan melihat situasi, jangan dilakukan di hadapan anak-anak.
Perbuatan sebagian orang ketika seorang isteri menjemput suaminya yang datang
dari luar kota atau dari luar negeri, ia mencium pipi kanan dan pipi kiri di tempat
umum. Demikian ini tidak tepat. Memberikan penghormatan dengan hangat tidak
mesti dengan mencium pasangannya. Misalnya, seorang suami dapat memanggil
isterinya dengan baik, tidak menjelek-jelekkan keluarganya, tidak menegur isterinya
dihadapan anak-anak mereka. Atau seorang isteri, bila melakukan penghormatan
dengan menyambut kedatangan suaminya di depan pintu. Apabila suami hendak
bepergian, isteri menyiapkan pakaian yang telah disetrika dan dimasukkannya ke
dalam tas dengan rapi.

Suami hendaknya menghormati isterinya dengan mendengarkan ucapan isteri
secara seksama. Sebab terkadang, ada sebagian suami, jika isterinya berbicara, ia
justru sibuk dengan handphonenya mengirim sms atau sambl membaca Koran. Dia
tidak serius mendengarkan ucapan isterinya. Dan jika menanggapinya, hanya dengan
kata-kata singkat. Jika isteri mengeluh, suami mengatakan “hal seperti ini saja
dipikirkan!”

Meskipun sepele atau ringan, tetapi hendaklah suami menanggapinya dengan
serius, karena bagi isteri mungkin merupakan masalah yang besar dan berat.
Kelima. Hendaklah memuji pasangannya
Di antara kebutuhan manusia adalah keinginan untuk di puji- dalam batas- yang
wajar. Dalam masalah pujian ini, para ulama telah menjelaskan, bahwa pujian
diperbolehkan atau bahkan dianjurkan dengan syarat-syarat: untuk memberikan
motivasi, pujian itu diungkapkan dengan jujur dan tulus, dan pujian itu tidak
menyebabkan orang yang dipuji menjadi sombong atau lupa diri.

Abu Bakar As Siddiq radhiallahu amhu pernah di puji, dan dia berdoa kepada
Allah: “Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku dengan apa yang mereka ucapkan.
Jangan jadikan dosa bagiku dengan pujian mereka, jangan timbulkan sifat sombong.
Jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka, dan ampunilah aku atas
perbuatan-perbuatan dosa yang mereka tidak ketahui.”
Perkataan ini juga di ucapkan oleh Syaikh Al Albani ketika beliau di puji-puji
oleh seseorang dihadapan manusia. Beliau rahimahullah menangis dan mengucapkan
perkataan Abu Bakar tersebut serta mengatakan: “Saya ini hanyalah penuntut ilmu
saja”.

Seorang isteri senang pujian dari suaminya, khususnya dihadapan orang lain,
seperti keluarga suami atau isteri. Dia tidak suka jika suami menyebutkan aibnya,
khususnya dihadapan orang lain. Jika masakan isteri kurang sedap jangan dicela.
Keenam. Bersama-sama melakukan tugas yang ringan
Di antara kesalahan sebagian suami ialah, mereka menolak untuk melakukan
sebagian tugas di rumah. Mereka mempunyai anggapan, jika melakukan tugas di
rumah, berarti mengurangi kedudukannya, menurunkan atau menjatuhkan
kewibawaannya di hadapan sang isteri. Pendapat ini tidak benar.
Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam melakukan tugas-tugas di rumah, seperti
menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sandalnya dan melakukan tugas-tugas di
rumah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan terdapat dalam
Jami’ush Shaghir. Terlebih lagi dalam keadaan darurat, seperti isteri sedang sakit
setelah melahirkan. Terkadang isteri dalam keadaan repot, maka suami bisa
meringankan beban isteri dengan memandikan anak atau menyuapi anak-anaknya. Hal
ini disamping menyenangkan isteri, juga dapat menguatkan ikatan yang lebih erat lagi
antara ayah dan anak-anaknya.
Ketujuh. Ucapan yang baik Kalimat yang baik adalah kalimat-kalimat yang menyenangkan. Hendaklah menghindari kalimat-kalimat yang tidak menyenangkan, bahkan menyakitkan.

Seorang suami yang menegur isterinya karena tidak berhias, tidak mempercantik diri
dengan celak dimata, harus dengan ucapa yang baik. (Nasihat untuk akhwat yg
berkeluarga atau ibu-ibu. Hendaknya wanita mempercantik diri dan berhias untuk
suaminya. Yang terjadi, umumnya berdandan dan mempercantik diri kalau mau keluar
rumah, atau kalau ada walimah, misalnya. Sedangkan di rumah, ia enggan
mempercantik diri dan tampil seadanya. Padahal berdandan dan mempercantik diri
untuk keluar rumah hukumnya haram.)
Misalnya dengan perkataan “Mengapa engkau tidak memakai celak?” Isteri
menjawab dengan kalimat yang menyenangkan: “Kalau aku memakai celak, akan
mengganggu mataku untuk melihat wajahmu”.

Perkataan yang demikian menunjukkan ungkapan perasaan cinta isteri kepada
suami. Ketika ditegur, ia menjawab dengan kalimat yang menyenangkan. Berbeda
dengan kasus lain. Saat suami isteri berjalan-jalan di bawah bulan pernama, suami
bertanya:”Tahukah engkau bulan purnama di atas?” Mendengar pertanyaan ini, sang
isteri menjawab:”Apakah engkau lihat aku buta?”
Kedelapan. Perlu berekreasi berdua tanpa membawa anak
Rutinitas pekerjaan suami di luar rumah dan pekerjaan isteri di rumah membuat
suasana menjadi keruh. Sekali-kali diperlukan suasana lain dengan cara pergi berdua
tanpa membawa anak. Hal ini sangat penting, karena bisa memperbaharui cinta suami
isteri. Kita mempunyai anak, lantas bagaimana caranya? Ini memang sebuah problem.
Kita cari solusinya, jangan menyerah begitu saja.
Bukan berarti setelah mempunyai anak banyak tidak bisa pergi berdua. Tidak!
kita bisa meminta tolong kepada saudara, kerabat ataupun tetangga untuk menjaga
anak-anak, lalu kita dapat pergi bersilaturahmi atau belanja ke toko dan lain
sebagainya. Kemudian pada kesempatan lainnya, kita pergi berekreasi membawa isteri
dan anak-anak.

Kesembilan. Hendaklah memiliki rasa empati pada pasangannya
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Perumpamaan kaum mukminan antara satu dengan yang lainnya itu seperti satu
tubuh. Apabila ada satu anggota tubuh yang sakit, maka anggota tubuh yang lain
pun ikut merasakannya sebagai orang yang tidak dapat tidur dan orang yang
terkena penyakit demam.” (HR. Muslim)

Ini berlaku secara umum kepada semua kaum muslimin. Rasa empati harus ada.
Yaitu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, termasuk kepada isteri atau
suami. Jangan sampai suami sakit, terbaring ditempat tidur, isteri tertawa-tawa
disampingnya, bergurau, bercanda. Begitu pula sebaliknya, jangan sampai karena
kesibukan, suami kemudian kurang merasakan apa yang dirasakan oleh isteri.
Kesepuluh. Perlu adanya keterbukaan

Keterbukaan antara suami dan isteri sangat penting. Di antara problem yang
timbul di keluarga, lantaran antara suami dan isteri masing-masing menutup diri, tidak
terbuka menyampaikan problemnya kepada pasangannya. Yang akhirnya kian
menumpuk. Pada gilirannya menjadi lebih besar, sampai akhirnya meledak.
Inilah sepuluh tips untuk merekatkan hubungan suami isteri, sehingga biduk
rumah tangga tetap harmonis dan tentram. Semoga bermanfaat, menjadi bekal
keharmonisan keluarga.

Dikutip dari Majalah As Sunnah Edisi Khusus 7&8 Thn IX/1426H/2005M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: